Pesona Aljazair Tak Mampu Selamatkan "Wajah" Afrika

Semua tim Afrika sudah angkat kaki dari Piala Dunia 2014.

Rabu, 2 Juli 2014, 18:44 WIB
Muchamad Syuhada
Para pemain Aljazair
VIVAbola - Pupus sudah asa tim-tim Afrika berprestasi di pentas Piala Dunia 2014. Mengutus lima wakil ke Brasil, kini semuanya sudah tumbang.

Nigeria dan Aljazair jadi harapan yang tersisa di fase knock out, kandas di tangan lawan-lawan mereka. Tim Elang Super tak berdaya menghadapi juara dunia 1998, Prancis. Sedangkan Fennecs Foxes harus mengakui kematangan Jerman.

Tiga tim lain bahkan sudah terkapar lebih dulu. Kamerun, Pantai Gading serta Ghana tak berdaya melewati babak penyisihan.

Kamerun, finis sebagai juru kunci di Grup A. Buruknya lagi mereka sama sekali tak mampu mendulang poin, alias selalu kalah dalam tiga laga. Dikalahkan Meksiko pada pertandingan perdana, Samuel Eto'o cs kemudian dilibas Kroasia 0-4 pada laga kedua. Dan di partai terakhir mereka kembali digasak tuan rumah Brasil, 1-4.

Pantai Gading, bergabung di Grup C, Didier Drogba cs bernasib lebih baik ketimbang Kamerun. Mereka mampu mendulang satu kemenangan dan finis di tempat ketiga klasemen akhir. Mengawali kiprah dengan hasil menjanjikan atas Jepang, namun Pantai Gading tak kuasa menahan Kolombia dan Yunani.

Ghana, satu lagi tim asal Afrika yang merasakan tersingkir dari Piala Dunia di posisi buncit. Hanya satu poin mampu diraih hasil bermain imbang dengan Jerman. Sisanya, Black Star kalah dari Amerika Serikat dan Portugal.

Tim Afrika dalam Sejarah Piala Dunia

Pencapaian tim-tim Afrika di Piala Dunia kali ini terbilang melorot. Terbukti tak ada satupun wakil mereka di perempatfinal. Berbeda dengan pagelaran sebelumnya di Afrika Selatan di mana Ghana membuat kejutan besar dengan mencapai 8 besar.

Sayangnya, langkah mereka kemudian dihentikan Uruguay. Gyan Asamoah cs tumbang lewat drama adu penalti setelah bermain imbang 2-2 pada waktu normal dan ekstra.

Namun, menengok ke belakang, Ghana bukan tim Afrika pertama yang mampu menembus perempatfinal perhelatan sepakbola terakbar itu. Sebelumnya, Senegal serta Kamerun juga pernah melakukan hal yang sama.

Senegal lolos ke perempatfinal pada Piala Dunia 2002 di Jepang-Korea Selatan. Membuat kejutan dengan mengalahkan juara bertahan Prancis di laga perdana, langkah El Hadji Diouf cs seakan tak terbendung. Mereka lolos dari fase grup dengan status runner up.

Di babak 16 besar, Senegal kembali membuat mata publik terbelalak. Mereka menumbangkan raksasa Eropa lain, Swedia dengan skor tipis 1-0. Apes, di pertandingan selanjutnya, mereka takluk oleh tim peringkat 3 dalam turnamen itu, Turki, dengan skor tipis 0-1.

12 tahun sebelum kiprah gemilang Senegal, Kamerun sudah lebih dulu membuat publik dunia tercengang. Pada Piala Dunia 1990 di Italia, Roger Milla cs membuka penampilan mereka dengan meraih kemenangan atas salah satu favorit juara, Argentina. Hebatnya lagi, kala itu Kamerun lolos sebagai juara Grup.

Pada laga perdelapanfinal, Kamerun ditantang Kolombia. Kembali mereka mampu menunjukkan taji dengan menang 2-1. Kiprah Indomitable Lions baru terhenti di perempatfinal, mereka dilumpuhkan Inggris lewat duel sengit yang berakhir dengan skor 2-3 bagi Three Lions.

Aljazair Paling Memukau

Lepas dari tumbangnya seluruh wakil Afika di Piala Dunia, bagaimanapun kubu Aljazair sukses mencuri perhatian publik dengan penampilan apik mereka. Gaya sepakbola menyerang dan permainan agresif membuat setiap pertandingan 'Sang Rubah Gurun' selalu menarik untuk disaksikan.

Memulai turnamen dengan hasil kurang menjanjikan, Aljazair berhasil bangkit. Mereka melibas Korsel 4-2 di laga kedua setelah sebelumnya tumbang oleh Belgia 1-2. Pada pertandingan terakhir babak penyisihan, Madjid Bougherra cs menahan Rusia 1-1 dan akhirnya lolos sebagai runner up.

Di babak 16 besar, mereka bertemu tim kuat, Jerman. Dengan sejumlah pemain tetap memilih menjalankan ibadah puasa Ramadan, Aljazair tak gentar sejengkalpun menghadapi Der Panzer.

Malah mereka mampu memberikan perlawanan sengit. Para pemain Jerman sempat dibuat pontang-panting menghadapi sejumlah gempuran mereka.

Sayangnya, setelah melewati waktu ekstra, Aljazair akhirnya tumbang 1-2. Meskipun demikian penampilan mereka tetap mendapat pujian, khususnya sang kiper Rais Mbolhi yang jatuh bangun menyelamatkan gawangnya dari kebobolan.

"Kami sangat dekat untuk melakukan sesuatu yang luar biasa. Kami tetap sejajar dengan Jerman yang hebat selama 90 menit. Kami menunjukkan kualitas dan kekuatan kami. Saya sangat bangga dengan apa yang kami lakukan," kata Bougherra selepas pertandingan.

"Saya rasa jika ada gol di babak pertama, itu bisa membuat kami percaya diri. Ada banyak peluang, namun itu tidak terjadi. Kami bereaksi bagus setelah kebobolan dua gol. Ketika sebuah tim bermain dengan hati, itulah fondasi yang dibutuhkan untuk meraih sukses," tegas bek 31 tahun ini. (one)
© VIVAbola
Rating
KOMENTAR ANDA
Kirim Komentar
Anda harus login untuk mengirimkan komentar
atau  
Belum memiliki akun VIVA? Silakan mendaftar.